Beranda Mechta

ruang ekspresi sebuah hati

Nyaur Utang

Diarsipkan di bawah: Nguri-uri basa Jawa, Sehari-hari — mechta at 6:38 pm on Jumat, Mei 24, 2013

Nyaur utang, kuwi hukume wajib.

Nanging mungguhku, ana rong macem utang kang ora gampang saur-saurane. Sing pisanan yo kuwi utang budi. Yen awake dhewe wis nampa budi utawa kabecikan saka wong liya, durung mesthi awake dhewe bisa mbales kanthi kabecikan kang pas persis ukurane karo sing wis ditampa. Amarga ukuran kabecikan iku relatif alias ora mesti padha antara wong siji lan sijine. Mula bener kandhane para pinisepuh, ” Aja nganti kepotangan budi, merga utang budi kuwi angel bisa disauri kanthi pas.”

Jenis utang liyane sing -kanggoku- uga angel saurane yoiku utang turu. Lha nek iku miturut pengalamanku dhewe. Saben aku kudu sinau nganti wengi ( dhek jaman sekolah mbiyeeen ) utawa ing masa saiki kudu nglembur ngrampungke gaweyan sing marai lek-lekan , wis bisa dipestheke yen esuke awakku bakal krasa lungkrah (lan ora mung sedina..) sak durunge bisa nyaur utang turu iku nganti taneg. Mula sak bisa-bisane aku usaha aja nganti utang turu alias lek-lekan ngono kui.

Emane, kadang-kadang kahanan ora bisa diatur miturut kekarepanku dhewe. Kaya wingi kae, ujug-ujung aku lan kancaku oleh tugas dines menyang Bandung, calik. Golek tiket sepur wis ora kumanan, dadi kepekso numpak mobil. Mangkat saka kuthaku dina Selasa bengi jam 23.30 WIB, alhamdulillah perjalanan lancar, dina Rebo esuk sekitar jam 8.30 wis siap ngrembug gawean nang Puslitbang Perkim Cileunyi. Tugas-tugas dirampungke dina iku uga lan sekitar jam 20.00 mangkat mulih menyang Pekalongan, tekan omah jam 5 esuk. Aku jenis wong kang ora bisa turu pules nang kendaraan, mbuh kuwi sepur, bis, apa maneh mobil cilik sing goncangane krasa nemen, dadi…sewengi eh rong wengi iku wis jelas aku utang turu :(

Gandheng dina Kemis iku ana kegiatan-kegiatan sing ora bisa mundur jadwale, dadi tetep kudu mangkat ngantor lan nembe bisa nyicil utang turu mbengine. Utang turu rong wengi, mesti wae durung bisa kesaur lunas sewengi iku. Esuk iki awak isih krasa lungkrah, mripat mbliyut pengene merem wae..hehe…

Mula, men ndang bisa lunas utangku, saiki aku tak nyicil nyaur utang maneh yo… Ngapuntene, kanca-kanca… terjemahan basa indonesiane sesuk wae yo… :)

Pengalaman berkereta malam

Diarsipkan di bawah: Jalan jalan, Sehari-hari — mechta at 3:30 pm on Minggu, Mei 19, 2013

Kemarin, aku berkesempatan menemani ibu menghadiri silaturahmi keluarga pada akad nikah & resepsi sepupuku yang ada di Jakarta. Sebenarnya ingin berlama-lama bertemu dengan bagian dari keluarga besar yang ada di Ibu Kota ini, karena sangat jarang ada kesempatan bisa berkumpul begini, namun karena ada acara lain yang juga harus diikuti di hari minggu maka kami pun nekad pergi calik alias tidak menginap, berangkat Jumat malam dan langsung pulang Sabtu malam berikutnya.

Kami bertiga sudah ada di stasiun pada Jumat jam 23.15 karena menurut jadwal kereta akan berangkat jam 23.30, tapi ternyata kereta baru datang dari Semarang sekitar jam 12 malam dan meninggalkan Pekalongan menuju Jakarta 15 menit kemudian. Alhamdulillah perjalanan lumayan lancar meskipun akhirnya sampai di stasiun Pasar Senen hari Sabtu jam 05.30, terlambat 1 jam lebih dari jadwal kedatangan seharusnya.

Sambil menunggu KA tiba... foto-foto dulu juga boleh..hehe...

Sambil menunggu KA tiba… foto-foto dulu juga boleh..hehe…

(There is more where this came from … )

8 Hal yg bisa kita lakukan sebagai penunggu pasien di RS

Diarsipkan di bawah: Sehari-hari — mechta at 8:53 am on Jumat, Mei 10, 2013

Teman, pernahkah kau ‘mati gaya’ ketika mendapat ‘giliran jaga’ alias menunggu keluarga yang dirawat di Rumah Sakit? Harus berada di sebuah ruangan dalam waktu yang cukup lama seringkali membosankan. Sebenarnya, hal-hal apa saja yang bisa dilakukan untuk membunuh waktu?

Berikut beberapa hal diantaranya : (There is more where this came from … )

[Berani Cerita#09] Tante Nia

Diarsipkan di bawah: Fiksi, Tak Berkategori — mechta at 6:53 pm on Senin, April 29, 2013

Gaun cantik berwarna ungu pastel yang ada di balik bungkus kado warna-warni itu tak urung menerbitkan binar-binar bahagia di mata Chika, yang kemudian memeluk pria tampan yang duduk di sebelahnya.

“Trimakasih, Papa…. Gaunnya cantiiik… “

“Secantik putri papa…”

“Siapa dulu papa-mamanya?”

Sekejap keheningan melintas selepas Chika melontarkan kata itu. Keduanya tercenung, mengingat sosok terkasih yang tak lagi menemani mereka.

“Maaf Papa… Chika tak bermaksud membuat papa sedih..”

Sang papa tersenyum, “Tapi kamu benar sayang, kamu secantik mamamu.”

Chika kembali memeluk papanya, sambil mengenang mamanya yang belum genap setahun meninggalkan mereka.

“Tapi Pa.. Kok papa bisa milih gaun secantik ini?” tanya Chika tiba-tiba.

Papanya tertawa, “Nah.., untuk itu kau mesti berterima kasih pada Tante Nia..”

“Tante Nia?”

“Iya, dia yang memilihkan gaun itu, juga asesoris yang ada di kotak mungil itu..”

Ah…rasa gembira yang Chika rasakan sebelumnya, tiba-tiba memudar…

*** (There is more where this came from … )

Kenapa kita (seringkali) mencari Kambing Hitam?

Diarsipkan di bawah: Ikut Ngramein..., Sehari-hari, opini — mechta at 8:39 pm on Sabtu, April 20, 2013

“Kambing hitam bukan tentang kambing berbulu hitam. Ini adalah metafora yang sering dihubungkan dengan kalimat seperti mencari kambing hitam, mengkambing hitamkan atau dikambing hitamkan. Dan menurut KBBI arti kambing hitam adalah orang, peristiwa, dan situasi yang sebenarnya tidak bersalah, tapi dipersalahkan atau dijadikan tumpuan kesalahan. “

Itu adalah paragraf pertama dari tulisan mBak Evi berjudul Mencari Kambing Hitam, yang tampaknya diilhami dari cerita sinetron impor yang ditontonnya tentang anak muda yang selalu mencari kambing hitam bagi semua permasalahan hidupnya. Selanjutnya dibahas bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita memang seringkali (sengaja ataupun tidak) mencari kambing hitam dari ketidakberhasilan / kegagalan yang kita alami. Tak lupa dijelaskan tentang asal-usul istilah ” Kambing Hitam / scapegoat ” itu dan tulisan itu ditutup dengan sebuah pertanyaan :Pernah mengkambing hitamkan sesuatu teman? (There is more where this came from … )

[Berani Cerita#8] Pemicu cemburu

Diarsipkan di bawah: Fiksi — mechta at 7:14 pm on Kamis, April 18, 2013

“Tadi ada tamu siapa, say?”

“Tamu? Gak ada kok, Mah…”

“Ooh.. ya sudah.. kirain ada tamu…”

“Aku berangkat dulu ya Mah.. “

“Okey… “

Ganti baju, beres-beres rumah dan mulai mencuci onggokan peralatan kotor di tempat cuci piring, termasuk cangkir bernoda lipstik & tatakannya. Tak ada tamu, katanya? Hm…

***

Cangkir bernoda lipstik lagiii? Huh! ini sudah yang kesekian kalinya… Dan kalau ditanya jawabannya selalu sama : gak ada tamu, kok Mah… Ih, sebeeeel :(

Dengan gemas kuangkat cangkir menyebalkan itu dari tempat cuci, menggeletakkannya begitu saja di meja dapur, lalu bergegas menuju kamar tidur. Awas, besok pagi…!

***

“Lhoh, Mah… Kok tumben belum siap-siap?”

“……”

“Sudah hampir jam tujuh lho… ‘ntar dipotong lagi gajinya..”

“Bodo!”

“Eh, si mamah… ada apa sih? Pagi-pagi cemberut gini… Aku mandi dulu ya…”

Huh… gemas rasanya melihat dia ngeloyor begitu saja ke kamar mandi, tanpa rasa bersalah sedikitpun…

Tik..tok..tik..tok… Huuh, lama amat!

“Lhoo… kok masih berdiri saja di situ? Bener-bener nggak kerja pagi ini?”

Ia terlihat celingak celinguk ke arah meja makan. Aku tahu banget apa yg dicarinya.

“Nggak ada teh-tehan, pagi ini!” sentakku.

“Eh..tumben… Yo wis, tak mbuat sendiri… ” dengan santai melenggang ke arah dapur.

Kali ini aku menghempaskan diri ke salah satu kursi meja makan. Terdengar klithak klithik ia membuat teh di dapur. Iih… santai amat! Pasti sudah dilihatnya cangkir sialan itu, tapi…kok gak ada respon sama sekali? Atau dia sedang menyusun alibi? pikirku gemas.

Dan rasa gemas itu makin menjadi melihatnya masuk membawa secangkir teh hangat mengepul, lalu duduk di depanku sebelum dengan santai menghirup nikmat minuman kesukaannya itu.

“Kamu cemburu ya, Mah?”

“Huh. Nggaak. Cuman sebel saja, karena mas bohong..”

“Yakiiin, cuma sebel sajaaa?” ledeknya.

“Maas…siapa wanita yang akhir-akhir ini menjadi tamumu ituuu?”

“Nggak ada..”

“Hayaah! Buktinya aku tiap malam nyuci cangkir bernoda lipstick itu! Mas masiiiih saja mungkir!”

“Lho…maksudku, bukannya nggak ada tamu…”

“Naah….memang ada tamu kan?” aku menegaskan. Dan ia mengangguk dengan enteng.

“Siapa wanita itu? Kenapa mas nggak jujur sama aku?”

“Eh Mah, kamu bener-bener nggak kerja kan? Yo wis… aku tak tidur dulu yaa… nguantuk banget je, habis jaga semaleman. Kalau memang penasaran, musti sabaaar…tunggu saja ntar sore…”

Haah?! Trus, aku ngapain seharian ini?? Aargh.. :(

***

Suara bel pintu sore itu menjawab kegelisahanku seharian ditambah rasa sebal yang kian menumpuk melihat sebaliknya suamiku tenang-tenang saja. Aku pun berlari membuka pintu.

Lho.. kok?!

“Eeh… Jeng Rina. Hari ini libur to Jeng? Atau sengaja menemani si mas di akhir pekan begini?” renyah sambutannya dan langkah gemulainya memasuki ruang tamu -seakan sudah sangat terbiasa- makin membuatku mengerutkan kening.

“Jeng…maaf ya, beberapa hari ini aku memang nunut dandan di sini… Soalnya, ibu kostku makin galak saja hari ke hari. Ia mengancam mengusirku bila melihatku dandan lagi. Untuuung, ada Ari sahabatku yang baik hati dan bersedia menampungku… Eh, gak papa, kan Jeng?”

Wis lah, Bud…ndang ganti terus dandan sana. Kali ini, nyonyahku yang akan membuatkan teh hangat yang sedaaap buat kita. Ya kan, Mah?”

Oalaaah… jadi mas Budi alias Bunce ini to, tamu misterius pemicu cemburuku??? :(

Note : 490 kata.

#1: Suatu sore di sebuah cafe

Diarsipkan di bawah: Fiksi — mechta at 9:04 am on Minggu, April 14, 2013

Suara kursi yang digeser di bagian lain ruangan itu, membuat Dea mengangkat kepala dari halaman buku yang dibacanya sejak tadi. Otomatis matanya mengarah ke jam dinding yang ada di sudut ruang. Tepat jam 16.00, seperti biasa. Lalu perlahan arah pandangnya beralih ke meja ujung, di dekat pintu masuk.

Ya, seperti telah diduganya, lelaki berkaca-mata hitam itu sudah duduk di sana, menekuni buku tebal dihadapannya, seperti halnya kemarin, kemarin lusa dan kemarin-kemarinnya lagi. Ini hari ke-5 kehadiran lelaki itu tepat di waktu dan meja yang sama. (There is more where this came from … )

[BeraniCerita#07] Si Pendiam yang Aneh

Diarsipkan di bawah: Fiksi, Ikut Ngramein... — mechta at 5:22 pm on Kamis, April 11, 2013

Biasanya seseorang yang tak suka bicara, suka menyendiri. Sering terlihat beraktifitas sendiri, sering ditemani buku-buku tebal, tanpa banyak terlibat dengan teman-temannya alias tak suka bergaul.

Tapi itu tak berlaku pada Winda. Gadis yang selalu ranking I itu, memang terkenal sebagai gadis yang irit bicara, namun bukan berarti dia tak berteman. Bahkan dia jarang terlihat sendiri. Entah itu di kantin, di perpustakaan, ataupun di angkot saat pulang sekolah. Berdua, bertiga atau bergerombol… dia tetap terlihat anteng dan nyaman di tengah celoteh teman yang bersamanya…

“Wiin… temani aku ke toko buku, ya?” suara cempreng Ranti meningkahi kicauan teman sekelasnya yang berebut keluar kelas sesaat setelah bel pulang berbunyi.

Dengan kalm Winda mengangguk dan tak lupa menyunggingkan senyum lesung pipitnya.

“Eh, mau ke GA ya? aku ikut dong Raaan? ” si mungil Dea tak mau ketinggalan rupanya.

“Iih… apaan siih, ikut-ikutan saja!” sungut Ranti. Hm, padahal sepulang dari toko kan aku ingin mengajak Winda ke kantin langganan untuk curhat, geram Ranti dalam hati.

“Yaah…boleh dong Ran, ‘ntar pulang dari sana kalian aku traktir di Bakso Mang Ali deh… sekalian aku pengen tanya tentang PR dari Bu Tuti yang mesti dikumpulin besok…” bujuk Dea pada Ranti. Sementara itu Winda yang sudah selesai membenahi buku-bukunya, sabar menanti keputusan Ranti.

Ranti menghela nafas…. ah, gagal deh acara curhat ke Winda siang ini… “Bagaimana Win, mau ke GA lalu ke Mang Ali?” tanyanya kemudian pada Winda, yang terlihat mengangguk mengiyakan ajakan itu. Begitulah, selanjutnya terlihat mereka beriringan keluar kelas, menuju parkiran tempat supir Ranti menunggu.

*** (There is more where this came from … )

Buta arah

Diarsipkan di bawah: Sehari-hari — mechta at 10:19 am on Minggu, April 7, 2013

” Timur - tenggara- selatan - barat daya… barat- barat laut- utara- timur laut… “

Itu sederet syair lagu yg entah apa judulnya, yang diajarkan pada kami saat SD untuk mengenal dan menghapalkan 8 penjuru mata angin. Kadang-kadang dengan memutar hadap tubuh kita sesuai arah yang disebutkan, kadang pula dengan membayangkan saja melalui pikiran kita. Selain lagu itu, ada pula rumus yang masih kuingat saat ini tentang mata angin juga, yaitu “Kibar Katim”.

Apaan tuuh ? Hehe… itu singkatan dari Kiri Barat dan Kanan Timur. Artinya bila kita menghadap kearah Utara, maka sebalah kiri kita adalah Barat dan otomatis sebelah kanannya adalah Timur. Begitu pula jika kita hanya tahu arah Barat maka saat kita menghadap arah Barat maka sebelah kanan kita adalah arah Utara, dst.

Nah… itu sedikit kilas balik cara kami -anak-anak SD jaman dulu- mempelajari arah mata angin. Apakah dua cara itu sukses bagi kami? Entah bagi yang lain, tapi bagiku cara itu memang sukses membantuku menjawab soal-soal yang berisi pertanyaan tentang mata angin…. namun tidak selalu sukses dalam penerapan keseharianku. Lho kok bisa? (There is more where this came from … )

Dari kebun buah ke pantai…

Diarsipkan di bawah: Jalan jalan — mechta at 10:04 am on Minggu, Maret 31, 2013

Hai teman…. gimana long weekend-nya ? semoga ceria ya…. Seperti kumpul keluarga di Jogja yang kami lalui di hari Jumat 29 Maret 2013 kemarin, dalam rangka mensyukuri ulang tahun Yangti yang ke-77.

Meskipun kumpul-kumpulnya hanya seharian itu (karena ternyata yang libur 3 hari cuma aku saja…) baik yang dari Brebes, Semarang maupun tuan rumahnya sendiri, ternyata hari Sabtu itu anak-anak & bapak-ibu mereka harus masuk. Yo wis, gak papa lah kumpul seharian saja, daripada tidak sama sekali, to? :) (There is more where this came from … )

Halaman Berikutnya »