Melibatkan Tuhan

11 Apr 2012

” Salah satu yg menjadikan manusia begitu istimewa adalah karena memiliki impian dan harapan. Dengan impian dan harapan, manusia memiliki cita-cita. Dan dengan cita-cita, hal mustahil sekalipun akan menjadi sebuah keniscayaan. Begitulah Allah menciptakan makhluk yg istimewa ini dan membekali mereka dengan kemampuan yg mengagumkan untuk bertahan dalam kondisi tersulit sekalipun. “

Itulah paragraf pertama yang membuka kisah pada sebuah novel berjudul SURAT TAKDIR UNTUK HAFIZ karangan Abdulkarim Khiaratullah, yg merupakan salah satu bahan bacaanku, pengisi liburan 3 hari kemarin.

Novel islami ini, sarat dengan nilai-nilai moral yang universal, yang tak hanya dapat dipetik hikmahnya oleh kalangan umat islam saja, namun juga bagi masyarakat pada umumnya. Novel ini menceritakan tentang kehidupan sehari-hari Hafiz -seorang remaja yatim piatu yang merupakan salah satu korban selamat dalam sebuah bencana alam- setelah diselamatkan kemudian diasuh dan dididik oleh seorang kakek yang baik hati, Engku Rajab namanya.

Tidak hanya bercerita mengenai konflik maupun perjuangan hidup sang tokoh utama saja, namun juga mengupas beberapa aspek kehidupan tokoh-tokoh lain di sekitar Hafiz, yang saling kait mengkait dan dituturkan secara runtut dengan alur cerita yang mengalir.

Latar belakang budaya Minang yang di ceritakan dengan apik juga menggenapi keasyikan membaca novel ini. Adat bersandi syara’, syara’ bersandi Kitabullah adalah pepatah Minangkabau yang sudah seringkali kita dengar. Bagaimana penerapannya dalam masyarakat Minang yang matrilineal dan perpaduannya dengan Islam yang berorientasi patrilineal, sedikit disinggung di sini dengan mencontohkan sebuah kasus tentang pembagian warisan.

Salah satu bagian yg paling berkesan buatku adalah di Bab 17 yg diberi judul Keliru Memahami Nasib. Dalam bab ini ada percakapan antara tokoh Sofyan -yg sedang galau- dengan Buya Khatib -tokoh agama yg pernah menjadi guru mengaji Sofyan :

” Tapi, kenapa Tuhan tidak memberi sedikitpun jalan keluar pada saya? ” protes Sofyan. ” Kenapa yg ada hanya bencana dan bencana? Di manakah Tuhan ketika saya minta pertolongan pada-Nya?”

Buya Khatib menarik napas dalam dan melepaskannya pelan. “Jalan keluar itu ada di mana-mana,” ujar beliau. “Hanya kita yg belum menemukannya. Mungkin barangkali kita belum mencari. Atau sudah berusaha mencari, namun caranya keliru. Allah Maha Mulia dan mencintai kemuliaan. Ia tidak menjadikan jalan keluar dari jalan yg tidak Ia ridhai. Mungkin saja begitu pertolongan itu akan datang, kita justru sudah kadung putus asa dan berbalik arah sehingga pertolongan itu pergi begitu saja.”

Beliau diam sejenak. “Kadang kita keliru dalam mengartikan nasib. Banyak orang beranggapan bahwa nasib baik lahir dari keberuntungan. Tidak ada yg bernama keberuntungan di dunia ini. Semua berjalan seiring usaha manusia…”

“Tapi, saya sudah berusaha keras untuk mendapatkan apa yg saya cari, namun sampai sekarang apa yg saya dapatkan hanya kesengsaraan dan penderitaan,” ucap Sofyan sedikit terbawa emosi, ” Apalagi yg kurang? Apalagi yg belum saya lakukan?”

“Masih ada satu hal yg belum kau lakukan, ” Buya masih terlihat tenang, “Kau belum melibatkan Tuhan dalam setiap usahamu.”

….

Begitulah, menurutku, novel yang banyak mengajarkan tentang persahabatan, ketulusan, pengorbanan untuk sesama, penyesalan terhadap kesalahan, serta sikap pasrah dan menerima ini merupakan novel yg bagus sebagai pembuka Trilogi yang ditulis oleh Abdulkarim Khiaratullah. Dengan membaca novel yang terdiri dari 28 bab dengan 439 halaman ini, aku menjadi semakin penasaran dengan kedua novel lanjutannya…

Surat Takdir untuk Hafiz

Nyari2 lagi ah… :)


TAGS


-

Author

Search

Recent Post