Emosi jiwa…

28 Apr 2012

Duuh…ngimpi apa aku semalam? Kok tiba2 kena ‘awu anget‘ begini?

Itu yg sempat terlintas di benakku ketika tak ada angin tak ada hujan (halah…lebay, hehe..) tiba-tiba saja seorang rekan senior mendatangi mejaku sambil marah-marah. Awalnya sih bingung juga karena beliau dengan nada tinggi (dan benar2 bersuara keras) ngomel tak karuan padaku, sambil nggebrakke kertas-kertas bertuliskan angka2 yang dibawanya, ke mejaku.

Huuft… Aku mengambil nafas dalam-dalam…sambil berusaha memilah maksud dari rentetan kata2 keras yang dikeluarkannya. Sempat aku lihat beberapa teman seruanganku menghentikan aktifitas mereka dan menujukan perhatian pada kami.. Wiih..serasa sedang syuting sinetron saja! ;)

Ternyata, pada intinya beliau komplain padaku karena dalam salah satu hasil analisa yang kubuat -sebagai bahan rapat evaluasi dua hari yang akan datang- terdapat kekeliruan. Sebenarnya kesalahan ada pada input sumber data yang kugunakan sebagai bahan analisa -yang merupakan hasil kerja rekan lain- dan mengakibatkan hasil analisa juga melenceng agak jauh…

Nah, ketika kusampaikan bahwa aku akan konfirmasi dulu pada rekan pembuat data dasar tersebut, eh..beliaunya malah melanjutkan marah-marahnya ( dengan cara yang sama sekali tidak anggun itu,hehe..) meskipun akhirnya beliau meninggalkan mejaku sambil tetap ngedumel. Astaghfirullah…aku berusaha tetap sabar saat itu.

Dan usaha sabar itu rupanya tak cukup sekali itu. Sekitar sepuluh menit kemudian beliau datang lagi dengan membawa data-data yg lain, dan masih dengan emosi tinggi menyalah-nyalahkanku di depan rekan-rekan lainnya. Alhamdulillah, sungguh aku bersyukur karena Allah benar-benar memberiku kesabaran ekstra kala itu, padahal hatiku sebenarnya cukup panas juga dengan cara komplainnya yang sangat merendahkan itu. Memang beliau satu tingkat di atasku, meskipun bukan atasan langsungku, tapi apa yg dilakukannya padaku rasanya terlalu berlebihan…

Kok, sabar temen to, mbak…, itu kata salah seorang rekanku ketika akhirnya beliau meninggalkan ruangan kami (sambil tetap bersungut-sungut), setelah aku menjamin bahwa akan melakukan koreksi bila ternyata setelah konfirmasi dengan rekan pembuat data dasar itu memang data yang dibawanyalah yang benar.

Nek aku wis tak waneni…begitu komentar yang lainnya. Halah, untuk apa? malah podho edane, begitu jawabku, (berusaha) kalm padahal sebenarnya aku hanya sedang menenangkan hatiku sendiri. Yang jelas aku berusaha tak terpancing emosi, meskipun aku merasa tak sepenuhnya salah, karena toh bahan evaluasi itu masih bisa direvisi dan bukannya harga mati.

Lalu kemudian, dari rekan lainnya kami baru tahu bahwa si ibu itu sedang emosi karena hal-hal lain ( masalah pribadi & masalah internal di unit kerja yang dipimpinnya), jadi rupanya aku dengan (yang menurutnya) 100% kesalahanku itu, merupakan sasaran untuk pelampiasan tumpukan emosinya semata.

Oalaaah….gitu to sejarahnya? Tapi, apa ya pantas perlakuannya padaku tadi? Dan antiknya lagi, tak ada sepatah kata maaf pun yang terucap padaku karena telah mempermalukanku sebagai pelampiasan emosinya. Malu, atau memang merasa tak perlu? entahlah… :(

Yang jelas, ada pelajaran penting yang dapat kuambil dari pengalamanku hari ini : Pertama, bahwa sebesar apapun persoalan yg ada, yang membuat otak terasa puanaasss….hati tetap harus dingin. Hati harus tetap bisa memilah-milah mana yg pantas, mana yg tidak; mana yg perlu dilakukan, mana yang hanya merupakan pemborosan energi semata. Yang kedua, siapapun berhak diperlakukan dengan layak, meskipun orang lain itu berada di ‘kelas’ terbawah sekalipun. Yang ketiga, harus pintar-pintar mengendalikan emosi, apalah artinya berpendidikan tinggi, berharta melimpah ataupun berstatus sosial tinggi, jika hanya menjadi budak emosi :(

Emosi..oh emosi…. Kitalah pengendalinya, jangan sampai justru kita yang dikendalikan olehnya… bukan begitu, teman?


TAGS


-

Author

Search

Recent Post