Puasa adalah upaya kita meneladani sifat-sifat-NYA

1 Aug 2012

Alhamdulillah, saat ini kita telah ada di sepuluh hari kedua bulan Ramadhan. Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah kita selama ini dan memberi kekuatan & kemudahan bagi kita untuk menjalani sepuluh hari pertengahan hingga sepuluh hari terakhir Ramadhan nantinya. Aamiin.

Tentunya telah banyak pengetahuan kita tentang puasa, khususnya puasa di bulan Ramadhan ini. Antara lain kita diajarkan bahwa puasa adalah salah satu upaya kita ‘berempati’ terhadap penderitaan kaum dhuafa, dengan merasakan penderitaan sebagaimana yang seringkali mereka rasakan, diharapkan kita dapat lebih memperhatikan & menyantuni kaum dhuafa itu dalam keseharian kita, disamping juga meningkatkan rasa syukur kita atas segala nikmat yang telah kita terima selama ini.

Namun, ketika aku membaca Buku ‘Membumikan al Qur’an’ (buah karya M. Quraish Shihab) aku menemukan suatu pembahasan mengenai puasa yang menjelaskan bahwa puasa adalah juga upaya kita meneladani sifat-sifat Allah. Oleh karena itu, kupikir tak ada salahnya bila kali ini kukutip tulisan beliau dari Bab 8 buku tersebut, yang khusus membahas tentang Puasa ini, sbb :

Puasa adalah ibadah yang bermula dengan tidak makan, tidak minum dan tidak bercampur dengan pasangan sejak terbit hingga terbenamnya matahari. Dengan tidak makan dan minum, seorang muslim yang berpuasa meneladani Tuhan yang tidak makan dan minum, bahkan ini akan lebih sempurna lagi jika yang berpuasa itu memberi makan karena demikianlah antara lain al-Qur’an memperkenalkan Allah sebagai : “Pencipta langit dan bumi, memberi makan dan tidak diberi makan” (QS. al-An’am [6]: 14). Dengan tidak melakukan hubungan seks, seseorang yang berpuasa meneladani Allah yang ditegaskan oleh al-Qur’an sebagai : “Tidak memiliki anak. Bagaimana Dia memiliki anak padahal Dia tidak memiliki teman (pasangan).” (QS. al-An’am [6]: 101). Itu semua dilakukan oleh manusia sesuai kemampuannya yang ditentukan Allah dalam konteks puasa selama sebulan penuh dari terbitnya fajar sampai dengan terbenamnya matahari.

Kendati demikian, hanya kedua sifat itu yang digarisbawahi oleh ketetapan hukum puasa untuk diteladani. Namun, dari segi substansi, berpuasa seharusnya berakhir dengan terpantulnya semua sifat-sifat Allah -kecuali sifat Ketuhanan-NYA- dalam kepribadian seseorang, karena berpuasa pada akhirnya adalah upaya meneladani sifat-sifat Tuhan sesuai dengan kemampuan manusia sebagai makhluk.

Dengan sifat-NYA ar-Rahman (Pelimpah kasih bagi seluruh makhluk dalam kehidupan dunia ini), yang berpuasa melatih diri memberi kasih kepada semua makhluk tanpa kecuali. Dengan sifat-NYA ar-Rahim (Pelimpah rahmat di hari kemudian), yang berpuasa memberi kasih kepada saudara-saudara seiman sambil meyakini bahwa tiada kebahagiaan kecuali bila Rahmat-NYA di hari akhir dapat diraih.

Dengan sifat al-Quddus (Maha Suci), yang berpuasa menyucikan diri, lahir dan batin, serta mengembangkan diri sehingga selalu berpenampilan indah, baik dan benar. Dengan meneladani sifat-NYA al-Afuww (Maha Pemaaf), seseorang akan selalu bersedia memberi maaf dan menghapus bekas-bekas luka hatinya. Sedangkan dengan meneladani sifat al-Karim (Yang Maha Pemurah) seseorang akan menjadi sangat dermawan.

Dengan meneladani Tuhan yang bersifat Maha Adil, yang pertama kali dituntut dari orang yang berpuasa adalah menegakkan keadilan terhadap dirinya sendiri, dengan jalan meletakkan syahwat dan amarahnya sebagai tawanan yang harus mengikuti perintah akal dan agama. Bukan malah menjadikannya sebagai tuan yang mengarahkan akal dan tuntunan agama, karena jika demikian, dia tidak berlaku adil, yakni tidak menempatkan sesuatu pada tempat yang wajar.

Dalam meneladani sifat Tuhan Yang Maha Mengetahui, orang yang berpuasa hendaknya terus-menerus berupaya menambah ilmunya. Dalam upaya tersebut, dia dituntut agar dapat menggunakan secara maksimal seluruh potensi yang dianugerahkan Allah kepadanya -panca indera, akal dan kalbu- untuk meraih sebanyak mungkin ilmu yang bermanfaat, bukan hanya ilmu yang berkenaan dengan seluruh benda -yakni seluruh alam raya- tetapi juga ilmu yang bersifat non-empiris, yang hanya dapat diraih dengan kesucian jiwa dan kejernihan kalbu.

….

Itulah kutipan dari sebagian tulisan M. Quraish Shihab yang membahas puasa - khususnya puasa sebagai upaya kita (manusia) meneladani sifat-sifat Tuhan, tentunya sesuai dengan kemampuan kita sebagai makhluk. Semoga saja kutipan ini bermanfaat bagi kita semua, terutama dalam upaya kita meningkatkan kualitas kita sebagai ummat-NYA.

Sebagai penutup pada Bab tersebut, beliau menyimpulkan bahwa berpuasa akan membawa sesorang pada peningkatan kecerdasan spiritual yang melahirkan kepekaan yang mendalam, kecerdasan emosional yang mendorong lahirnya ketabahan dan kesabaran dalam menghadapi segala tantangan dan ujian maupun kecerdasan intelektual. Dengan aneka kecerdasan tersebut seseorang akan menyandang pakaian ruhani. Dan bagaimana bila seseorang telah mengenakan pakaian ruhani itu?

Dengan pakaian ruhani, terpelihara identitasnya, lagi anggun penampilannya. Anda akan menemukan dia selalu bersih walau miskin, hidup sederhana walau kaya, terbuka tangan dan hatinya. Tidak berjalan membawa fitnah, tidak menghabiskan waktu dalam permainan, tidak menuntut yang bukan haknya dan tidak menahan hak orang lain. Bila beruntung dia bersyukur. Bila diuji dia bersabar. Bila berdosa dia istighfar. Bila bersalah dia menyesal. Dan bila dimaki, dia tersenyum. Wa Allah A’lam.

Masih ada separuh lebih bulan Ramadhan ini. Semoga kita semua dapat mempergunakan waktu sebaik-baiknya untuk berupaya mendapatkan pakaian ruhani itu bagi kita. Insya Allah, Aamiin.

***

Sumber : Membumikan Al-Qur’an Jilid 2 . Penulis : M. Quraish Shihab. Penerbit Lentera Hati. 2011.


TAGS


-

Author

Search

Recent Post