L.e.g.a.w.a…

10 Sep 2014

Sreeeeek…!

Suara benda menggesek lantai mengalihkan perhatianku dari layar komputer. Aku menoleh dan mendapati salah seorang rekanku sedang menyeret kursi lipat ke depan mejaku.

Mendung di wajahnya membuatku segera memutar kursiku ke arah meja, menantinya mengeluarkan uneg-uneg yang tampak ingin segera ditumpahkannya padaku.

“Bu Ade, kok aku masih diikutkan di tim ini sih?” itu kata pertama yang muncul dari bibir manyun-nya sambil sedikit menghentakkan seberkas arsip di depanku. Kuamati, itu berkas susunan tim penyelenggara kegiatan kantor kami minggu depan.

“Lho, Bu Ila kan memang bagian dari tim ini?” jawabku santai, sambil menyapukan pandangan ke seputar ruangan kami.

Ada Mita di ujung sana, dalam posisi memunggungiku dan sibuk dengan pekerjaan di komputernya, sebagaimana Pak Rudi yang duduk di sebelahnya, sementara Rena yang terdekat posisinya dengan mejaku segera mengambil sebuah map dan beranjak ke luar ruangan. Hm, rupanya ia membaca permintaan tersirat dalam pandanganku.

“Iya, tapi itu kan duluuu…” sergah Bu Ila, “sejak pelantikan kemarin, aku sudah bukan bagian dari tim kalian lagi.”

“Lho, bukannya kemarin Bapak masih menyatakan bahwa tak ada perubahan dalam tim kita meskipun ada pergantian posisi di departemen njenengan?” perlahan aku mengingatkan pernyataan Boss besar pada rapat terakhir kemarin, sehari setelah pelantikan pejabat yang mengesahkan pergantian posisi di salah satu departemen kantor kami.

Dalam rolling pejabat itu, Bu Ila bergeser posisi sejajar ke departemen lain sementara Pak Agung anak buahnya menggantikan posisinya di departemen lama.

“Aaah, itu kan hanya abang-abang lambe* saja, Bu Ade. Sejak lama aku tahu bahwa kedudukanku di sana tak disukai. Yang aku herankan, kenapa tak sekalian saja aku dimutasi ke lain kantor?”

“Sst.., Bu… Jangan gitu ah… Nggak enak sama teman-teman lain,” bisikku coba menenangkannya.

“Ah, sudahlah. Pokoknya, aku tak mau lagi ada dalam tim itu. Sudah bukan tanggung jawabku lagi dan kalau Bapak masih menghendaki, biarlah beliau sendiri yang menyatakannya langsung padaku!” dengan agak kasar dia beranjak dari hadapanku, melangkah cepat ke luar ruangan.

Begitu pintu ruangan tertutup di belakangnya, kulihat Mita dan Pak Rudi langsung memutar kursi mereka secara bersamaan, menghadap mejaku.

“Kok masih uring-uringan terus sih, Bu Ila itu?” cetus Mita sambil mengerutkan kening.

“Iya ya.., tampak sekali masih belum menerima pergantian posisi kemarin. Padahal, eselonnya toh tetap, bahkan dia juga sudah tak asing dengan tupoksi barunya di sana karena dulu pernah juga di departemen itu..” Pak Rudi tak ketinggalan menyuarakan keheranannya dengan panjang lebar.

“Ah, Pak Rudi masa tidak tahu… Antara mereka berdua itu kan memang sudah ada perang dingin sejak lama…” tambah Rena yang tiba-tiba saja sudah masuk kembali dan tak mau ketinggalan membahas hal itu.

“Perang dingin? Ah, macam Amerika & Soviet saja, Ren..”

“Soviet? Ah, jadul amat Pak Rudi ini!” sambar Mita sambil tertawa lebar diikuti tawa kami semua.

“Ssst… sudah-sudah… Kok malah dibahas panjang lebar begini..” leraiku.

“Tapi Bu, apakah menurut Ibu sikap Bu Ila itu tak lebay ?” tanya Rena.

“Kalau menurutku sih tak pantas seorang pemimpin kok seperti itu!” Mita pun menyuarakan pendapatnya, sementara Pak Rudi manggut-manggut di sebelahnya.

Aku serba salah. Bagaimanapun, Bu Ila adalah kolega setingkatku. Rasanya tak etis mengomentari sikapnya di hadapan karyawan lain yang notabene lebih rendah tingkatannya. Tapi, aku sendiri kurang suka dengan caranya mensikapi kondisi yang sedang dihadapinya.

“Menurutku, ini adalah pelajaran buat kita semua. Jabatan adalah amanah dan yang menilai kita adalah orang lain, bukan diri sendiri. Kewajiban kita adalah bekerja dengan sebaik-baiknya, di manapun posisi kita. Nah, sudah… Kita selesaikan saja tugas kita sebelumnya, OK ?!”

“OK… Siap, Boss!” sahut ketiganya serempak. Sambil tersenyum mereka pun kembali menekuni tugas masing-masing. Alhamdulillah, aku bersyukur mendapat teamwork yang selalu kompak dan sangat menunjang keberhasilan departemen kami ini.

Dalam hati aku benar-benar mencatat apa yang kami saksikan tadi sebagai pelajaran penting buatku.

Legawa memang mudah diucapkan, namun rupanya tak selalu mudah dijalankan…

***

Nama dan lokasi dalam kisah ini adalah fiktif, kesamaan nama dan kejadian adalah kebetulan semata :)

*Abang-abang lambe = basa-basi


TAGS


-

Author

Search

Recent Post