Ajining diri (ora mung) dumunung aneng lathi

26 Sep 2014

Beberapa hari lalu, ketika membuka FB sempat agak kaget membaca status salah satu ABG tersayang kami. Ada kata-kata kasar yang tertulis di sana ! :(

Ada apa dengan ABG cantik kami itu?

Biasanya dia selalu santun dalam menuliskan kata-kata dalam status FB-nya, sebagaimana dalam kesehariannya. Tak selalu serius memang… Sebagaimana ABG lainnya ada beberapa kali dia menulis status dengan gaya 4!4y khas remaja seusianya. Namun belum pernah sekalipun muncul kata kotor / kasar diantara status-status gejenya (yang akhir-akhir ini sering muncul).

Yah, dara manis kami memang sudah beranjak remaja kini, anak SMP dengan segala problematikanya.. :)

Membaca beberapa statusnya sering membuatku senyum-senyum sendiri, tapi sungguh suatu kejutan yang sangat tak menyenangkan ketika membaca statusnya sore itu.

Jika mengikuti keinginan hati, aku langsung ingin menegurnya saat itu juga melalui komentar di status itu. Tapi tiba-tiba ingatanku akan kata-kata salah seorang narasumber dalam sebuah pertemuan yg kuikuti beberapa waktu lalu membuatku mengurungkan niatku itu.

Ya, pada sebuah sosialisasi penggunaan TIK berperspektif gender yang kami ikuti beberapa waktu lalu, ada salah satu sesi membahas pentingnya orang-tua mendampingi putra-putrinya (khususnya anak & remaja) saat berselancar di dunia maya. Menjadi teman FB putra-putrinya adalah salah satu caranya, namun perlu hati-hati ketika menemukan hal-hal yang perlu ditegur / diarahkan pada mereka.

Kita tak bisa langsung menegur mereka -apalagi secara keras- di beranda mereka misalnya, karena hal itu hanya akan membuat si anak merasa malu dengan teman-temannya, menjadikan mereka menarik diri dari kedekatan dengan orang-tua yang dirasakan membelenggunya bahkan bisa membuatnya memutus pertemanan dengan kita… Nah, jadinya malah kita rugi karena tak bisa ikut memantau perkembangan mereka, bukan?

Hm, jadi ingat kasus yang sama (dengan ABG yg berbeda) beberapa waktu lalu. Uups… jadi, caraku waktu itu salah ya? Untung saja tak membuatnya mutung & memutus pertemanan, hehe… Tak ingin mengulang kesalahan, maka akupun mencoba menghubunginya lewat inbox. Berbasa-basi dulu menanyakan kabarnya & keluarganya, baru menanyakan apakah ada hal yang sedang mengganggunya saat itu hingga menulis status seperti itu.

Kami bahas pula bahwa kita harus berhati-hati dalam setiap tindakan kita karena itu mencerminkan diri kita. Seseorang bisa dinilai dari apa yang dikatakannya, atau dalam hal ini apa yang dituliskannya. Alangkah sayangnya bila emosi sesaat membuat kita melakukan tindakan yang dapat membuat kita ‘dicap’ atau dinilai salah.

Syukurlah, sesi berbalas kata via inbox itu rupanya membuat gadis manis kami menyadari kesalahannya. Bahkan dia berinisiatif sendiri menghapus statusnya yang itu lalu menuliskan permintaan maaf atas status sebelumnya yang kurang baik itu.

Sesungguhnya dengan mengingatkannya, aku juga sedang mengingatkan diri sendiri untuk tak melakukan kesalahan yang sama. Aku jadi ingat pepatah Jawa Ajining dhiri dumunung aneng lathi, ajining raga ana ing busana yang artinya -kurang lebih- “nilai kepribadian seseorang ada dalam ucapan/kata, penampilan mencerminkan kepribadian.”

Oya, menurutku saat ini ajining dhiri ora mung ana ing lathi, nanging uga ing driji. Bukan hanya ucapan lisan yang harus kita jaga melalui upaya berhati-hati mengeluarkan kata-kata lewat lathi ( bibir) namun juga ‘ucapan’ tertulis juga perlu kita jaga dengan berhati-hati menggerakkan driji (jari-jemari) kita.

Hal lain yang kami bahas bersama kemarin adalah bahwa ‘Seseorang menjadi baik bukan karena ia tidak pernah salah, namun karena ia mau mengambil pelajaran dari kesalahannya.”

Bagaimana menurutmu, teman?


TAGS


-

Author

Search

Recent Post