Sebuah renungan…

12 Oct 2014

Alhamdulillah.., akhirnya bisa apdet lagi di sini.. *sambil bersih2 sawang di sudut-sudut blog ini… :)

Beberapa waktu lalu, diantara kesibukan menjalani rutinitas kerja, aku menemui 2 kejadian yang membuatku merenung.

Yang pertama, di sela-sela acara pelatihan penanganan korban KDRT yang sempat kuikuti, ada salah seorang peserta yang menceritakan bahwa di daerah tempat tinggalnya terdapat seorang bapak yang sudah sepuh namun saat ini terpaksa menggelandang di sekitar tempat tinggalnya, karena sudah tak diterima lagi oleh semua anggota keluarganya.

Entah ada sejarah apa yang melatar-belakangi kejadian itu, yang jelas saat ini istri dan anak-anak bapak itu tak mau menerimanya dan membiarkannya menggelandang atau mengharapkan belas kasihan orang lain -dalam hal ini tetangga-tetangganya.

Dikisahkan oleh ibu kader itu, bahwa masyarakat sekitar sudah mengadakan pendekatan kepada keluarga itu namun mereka benar-benar tak mau menerima kembali si bapak. Adapun kondisi bapak itu semakin memprihatinkan,bahkan mulai memperlihatkan tanda-tanda sakit jiwa.

Oleh fasilitator dalam pelatihan itu, disarankan agar tokoh masyarakat setempat kembali mengadakan pendekatan dengan keluarganya, dan untuk si bapak itu disarankan untuk ditampung sementara di Rumah Perlindungan Sosial Berbasis Masyarakat (RPSBM) yang ada di kota kami.

Kejadian kedua adalah saat aku dan teman-teman menjalankan tugas monev pelaksanaan sebuah program / kegiatan di tingkat kelurahan. Salah satu kegiatan dalam program pembangunan berbasis masyarakat tersebut adalah peningkatan kualitas Rumah Tidak layak Huni (RTLH).

Ketika uji petik di salah satu lokasi kegiatan tersebut, kami memasuki halaman sebuah rumah yang relatif baik. Awalnya aku sempat mbatin, rumah sasaran kok gak sesuai kriteria? Ternyata bukan rumah itu yg menjadi sasaran pugar rumah melainkan rumah lain di belakang rumah itu.

Memasuki ‘rumah’ minimalis itu kami semakin tercekat. Rumah itu hanya terdiri dari dua ruang, depan & belakang. Seorang nenek renta sedang berbaring di balai-balai -satu-satunya perabotan yg ada di ruang depan, sementara ruang belakangnya semacam dapur dg meja dan kursi seadanya. Menurut penuturan ketua pelaksana keg tersebut, sebelum direhab rumah itu berdinding pagar bambu (gribig / gedheg), lantainya tanah & atapnya sudah rusak… ah, sama sekali tak pantas disebut rumah kalau melihat foto 0% nya…

Nenek itu tinggal seorang diri, awalnya kami kira memang dia hidup sebatang kara. Namun ketika sempat bercakap-cakap dengan beliau, hatiku semakin tercekat.

“Kula niki gadah anak 9, nanging kados mboten gadah babar blas ( saya ini mempunyai 9 orang anak namun seperti tak mempunyai anak satupun)”, demikian penuturannya. Dengan lirih beliau menuturkan bahwa sebagian besar kebutuhannya didapatnya dari belas kasihan orang lain, bukan anak-anaknya sendiri. Tangannya bergetar ketika menjabat tanganku, sambil berulang-ulang mengucapkan kata maturnuwun sanget…

Ada kisah apa diantara ibu sepuh ini dengan anak-anaknya? Aku semakin tak habis pikir ketika -belakangan- tokoh masyarakat yang mengantar kami ke sana mengatakan bahwa salah satu anak nenek itu tinggal di rumah depannya, di halaman yang sama ! :(

Apa sebenarnya ‘dosa besar’ bapak & ibu tua itu yang membuat mereka ‘layak ditelantarkan’ keluarganya sendiri?

Ah, aku tak tahu apa masalah keluarga mereka, dan tak mau menghakimi siapapun hanya berdasarkan versi 1 pihak saja, namun kedua kejadian ‘penelantaran’ itu sungguh membuatku nelangsa terutama ketika mendengar kata-kata penuh kecewa yang keluar dari bibir renta seorang ibu atas keabaian anak-anaknya. Langsung terbayang ibuku sendiri di rumah… hiks…

Ya Allah… sungguh aku memohon perlindungan dari keadaan yang sedemikian itu. Jangan pernah jadikan kami anak-anak yang durhaka kepada orang tua kami -apapun masalahnya.

Ya Rabb, tanamkanlah selalu di hati kami bahwa menghormati dan berbakti kepada ibu dan bapak adalah bagian yang mengikat dalam kesempurnaan iman kami kepada-Mu dan Rasul-Mu, sebagaimana firman Mu dalam QS. Luqman [31] : 14 yaitu : “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu-bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu.”

***

Catatan : Paragraf terakhir diilhami dari Bab 2 (Kunci Sukses dan Bahagia Itu Ibu) Bagian Pertama Buku “Seni Merangkai Keberhasilan” - Karya Ahmad Muhaimin Azzet, Lily Suhana dan Abdul Cholik - PT Elex Media Komputindo - 2014 ).


TAGS


-

Author

Search

Recent Post