• 10

    Sep

    L.e.g.a.w.a...

    Sreeeeek…! Suara benda menggesek lantai mengalihkan perhatianku dari layar komputer. Aku menoleh dan mendapati salah seorang rekanku sedang menyeret kursi lipat ke depan mejaku. Mendung di wajahnya membuatku segera memutar kursiku ke arah meja, menantinya mengeluarkan uneg-uneg yang tampak ingin segera ditumpahkannya padaku. “Bu Ade, kok aku masih diikutkan di tim ini sih?” itu kata pertama yang muncul dari bibir manyun-nya sambil sedikit menghentakkan seberkas arsip di depanku. Kuamati, itu berkas susunan tim penyelenggara kegiatan kantor kami minggu depan. “Lho, Bu Ila kan memang bagian dari tim ini?” jawabku santai, sambil menyapukan pandangan ke seputar ruangan kami. Ada Mita di ujung sana, dalam posisi memunggungiku dan sibuk dengan pekerjaan di komputern
    Read More
  • 4

    Jul

    [Prompt #56] Hujan tangis

    Malam senyap. Dinda tergolek resah, pandangannya terpaku pada kalender di dinding. Banyak angka bersilang merah di sana. Tanpa harus menghitung kembali, ia tahu betul jumlah angka bersilang merah itu : 28. Ia teringat percakapan dengan kekasihnya 28 hari lalu. “Din, kok mbesengut begitu sih. Aku ingin mengenang wajah manismu, bukan cemberutmu..” goda Adi. “Mas kan tahu, aku nggak senang dengan kepulangan Mas ini…” “Iya, Sayang… Tapi, Mas harus pulang kali ini. Bapak mengabarkan bahwa Ibu sakit. Kau baca sendiri sms dari Bapak kemarin, bukan?” “Tapi Mas, apa ibu memang benar-benar sakit? Jangan-jangan itu hanya taktik agar Mas mau pulang, menemui calon yang pernah mereka sebut-sebut itu..” “Hus…, jangan berprasangka bu
    Read More
  • 26

    Dec

    [Berani Cerita#42] Ketika Coki datang

    Hangatnya mentari di luar sana sangat menggoda untuk dinikmati. Dari ambang pintu kulihat kursi bambu di bawah pohon mangga itu sangat mengundang untuk ditiduri. Hm… tumben kursi panjang itu kosong. Biasanya kalau tidak si centil Tina pasti ada si anteng Miko yang menikmati buku-buku mereka di sana. Oh iya… liburan hari kedua ini, kedua anak itu masih di rumah nenek mereka… Bergegas kulangkahkan kaki ke kursi itu. Bergolek nyaman menikmati hangat mentari yang akhir-akhir ini jarang muncul. Namanya juga Desember ya.. hihi…. Aah, andai saja ada Coki menemaniku bersantai begini… Eh, tunggu… ini sudah hari ketiga tak tampak batang hidungnya. Hm, awas saja kalau benar kata mereka bahwa dia ada main dengan tetangga baru itu.. Huh! Suara dahan mangga bergeseka
    Read More
  • 1

    Nov

    Begadangnya Ella

    “Wiek…, sudah ditagih SPJ sama mbak Rini tuuh… besok pagi terakhir katanya…” “Ya bu.. Insya Allah besok pagi siap ditandatangani di meja ibu.” “Baguslah… Yo wis, aku pulang dulu ya…” sambil tersenyum kecil, Bu Rina -atasanku itu- mengambil tasnya dan melenggang ke luar ruangan, bergabung dengan rekan-rekan lain yang juga bergegas pulang sore ini, meninggalkanku sendiri dengan setumpuk laporan yang harus jadi sore ini. Aku menghela nafas panjang, melirik jam dinding yang menunjukkan waktu 16. 45, dan meraih tas mengambil HP. Cukup lama telepon yang kutuju baru dijawab. “Assalamualaikum, Bu… Ini, Dewi… “ “Waalaikumsalam, Wiek… Maaf ibu ketiduran ngeloni Ella, sudah ngebel dari tadi?”
    Read More
  • 3

    Aug

    [Berani Cerita #23] Bintang hatiku

    “Ya mas, stop di sini… itu rumahku,” suara merdunya menghentikan laju perlahan kendaraanku. Kami berhenti di depan sebuah rumah dengan halaman yang terlihat asri, di bawah naungan pohon kelengkeng besar. “Terima kasih ya mas, sudah repot mengantarku pulang. Mau mampir, atau langsung saja?” tanyanya membuyarkan pengamatanku sekejap tadi. “Ah, maaf In, aku langsung saja ya.. Masih ada yg harus kukerjakan, ” kilahku. Dia mengangguk, lalu turun dengan anggun. Setelah melambaikan tangannya iapun bergegas membuka pintu pagar rumah itu. Tampak olehku 3 kanak-kanak menghambur dari dalam rumah, bersicepat menyambut kedatangannya. “Mba Intang pulaaang… ” begitu kudengar teriakan ketiganya dengan suara khas kanak-kanaknya. Aku menghela nafa
    Read More
  • 30

    Jun

    Iwe's Story (2)

    Siang beranjak sore, dan teman-teman sibuk menyiapkan acara penutupan, sementara aku juga sibuk sendiri di pinggir lapangan dengan kameraku. Sedang asyik-asyiknya membidik sebuah obyek ketika tiba-tiba Sang obyek menoleh, tersenyum manis dan melangkah ke arahku. Alamaak… “We, coba lihat hasil fotomu di acara kemarin. Kata anak-anak bagus-bagus ya..” “Eh, biasa saja kok Bu, silahkan…” kataku sambil mengangsurkan kamera kepadanya. Kamipun kemudian berbagi bangku, asyik mengamati hasil kerjaku seharian di acara outbond kemarin, sambil sesekali bertukar komentar atas foto-foto itu. “Eh.. pose-pose begini nggak bikin Rani cemburu, We?” tanya Bu Winda sambil mengamati fotoku merangkul pundak Diani -peserta tercantik di pelatihan kali ini- di tenga
    Read More
  • 4

    Jun

    Penjaga hati pilihan ibu

    Dea masih memegangi surat itu sambil termangu. Itu memang bukan surat cinta, namun isi surat itu membekas di hatinya. Perlahan dibukanya kembali lembaran kertas terlipat itu, menekuri kalimat-kalimat yang kemarin telah dirangkai ibu untuknya. “Nduk, ibu sudah semakin tua… Usia memang rahasia Illahi, namun jika saat akhir ibu tiba, ibu ingin merasa lega karena kau telah ada yang menjaga.. Namun yang lebih penting lagi, ibukangen, pulanglah nduk… “ Kalimat terakhir itulah yang paling membuat hatinya tercekat. Memang sudah beberapa kali liburan ia tak pulang, semata karena tak ingin mendengar pertanyaan ibu tentang kapan hatinya berlabuh. Pertanyaan wajib yang selalu ditanyakan ibu di setiap kepulangannya. Pertanyaaan yang tak juga dapat dijawabnya dan telah membuat
    Read More
  • 29

    Apr

    [Berani Cerita#09] Tante Nia

    Gaun cantik berwarna ungu pastel yang ada di balik bungkus kado warna-warni itu tak urung menerbitkan binar-binar bahagia di mata Chika, yang kemudian memeluk pria tampan yang duduk di sebelahnya. “Trimakasih, Papa…. Gaunnya cantiiik… “ “Secantik putri papa…” “Siapa dulu papa-mamanya?” Sekejap keheningan melintas selepas Chika melontarkan kata itu. Keduanya tercenung, mengingat sosok terkasih yang tak lagi menemani mereka. “Maaf Papa… Chika tak bermaksud membuat papa sedih..” Sang papa tersenyum, “Tapi kamu benar sayang, kamu secantik mamamu.” Chika kembali memeluk papanya, sambil mengenang mamanya yang belum genap setahun meninggalkan mereka. “Tapi Pa.. Kok papa bisa milih gaun secantik ini?”
    Read More
  • 18

    Apr

    [Berani Cerita#8] Pemicu cemburu

    “Tadi ada tamu siapa, say?” “Tamu? Gak ada kok, Mah…” “Ooh.. ya sudah.. kirain ada tamu…” “Aku berangkat dulu ya Mah.. “ “Okey… “ Ganti baju, beres-beres rumah dan mulai mencuci onggokan peralatan kotor di tempat cuci piring, termasuk cangkir bernoda lipstik & tatakannya. Tak ada tamu, katanya? Hm… *** Cangkir bernoda lipstik lagiii? Huh! ini sudah yang kesekian kalinya… Dan kalau ditanya jawabannya selalu sama : gak ada tamu, kok Mah… Ih, sebeeeel :( Dengan gemas kuangkat cangkir menyebalkan itu dari tempat cuci, menggeletakkannya begitu saja di meja dapur, lalu bergegas menuju kamar tidur. Awas, besok pagi…! *** “Lhoh, Mah… Kok tumben belum siap-siap?” “
    Read More
  • 14

    Apr

    #1: Suatu sore di sebuah cafe

    Suara kursi yang digeser di bagian lain ruangan itu, membuat Dea mengangkat kepala dari halaman buku yang dibacanya sejak tadi. Otomatis matanya mengarah ke jam dinding yang ada di sudut ruang. Tepat jam 16.00, seperti biasa. Lalu perlahan arah pandangnya beralih ke meja ujung, di dekat pintu masuk. Ya, seperti telah diduganya, lelaki berkaca-mata hitam itu sudah duduk di sana, menekuni buku tebal dihadapannya, seperti halnya kemarin, kemarin lusa dan kemarin-kemarinnya lagi. Ini hari ke-5 kehadiran lelaki itu tepat di waktu dan meja yang sama. Atau mungkin juga sudah lebih dari 5 hari laki-laki itu selalu ada di sana? entahlah. Yang jelas, sejak 5 hari lalu ia menyadari kehadirannya yang tampak berbeda dari pengunjung lain cafe itu. Dea sendiri tak yakin apa yang sebenarnya paling menari
    Read More
- Next

Author

Search

Recent Post